Mereka pun Tersenyum Bahagia

Saya istirahat sejenak di sebuah halte untuk sekedar melepas lelah, setelah berkeliling menjajakan dagangan saya. Malam belum terlalu larut, lalu lintas masih terlihat ramai lancar, lalu lalang orang-orang yang pulang kantor juga masih terlihat.

Tepukan di pundak saya dari arah belakang membuat saya menoleh ke arah orang yang menepuk saya. Seorang bapak dengan rambut mulai memutih, dengan pakaian yang lusuh dan tanpa ekspresi sedikit pun, tak ada senyum, hanya diam sambil tangannya menyodorkan gelas bekas air mineral, telah berdiri di hadapanku. Aku pun juga terdiam sesaat. Namun aku segera tanggap. Dia meminta sesuatu kepada saya. Kuraih gelas itu sambil tanganku satunya membuka tutup termos air ukuran 2 liter, kutuangkan air panas ke dalam gelas tadi, karena memang itulah yang aku bawa saat itu, air panas dan bermacam-macam kopi sachetan yang kujajakan untuk meraih sebagian karunia Allah yang Dia anugerahkan bagi hamba-hamba-Nya yang mau berusaha. Pas banget, saat bapak tadi membutuhkan seteguk air, saya pas ada air.

Setelah air penuh, saya serahkan kembali gelas itu kepada bapak tadi. Dia pun langsung pergi. Namun ada yang beda kali ini. Jika datangnya tadi tanpa ekspresi, sekarang bapak itu meninggalkan untukku seberkas senyum dari bibirnya. “Sekecil apapun itu semoga menjadi amal ibadah bagiku,” gumamku dalam hati.

Terlihat dari kejauhan ternyata bapak tadi sedang makan. Mungkin karena tidak punya air, maka dia tadi minta air minum kepada saya.
Di lain waktu, masih dengan aktivitas yang sama, berdagang. Namun kali ini saat saya sedang berkeliling. Pandangan mataku tertuju pada tumpukan sampah di pinggir jalan yang pada waktu itu mungkin belum diangkut oleh petugas kebersihan. Yang terlihat banyak waktu itu sampah berupa wadah bekas makanan. Terlihat ada seseorang yang mangais-ngais sesuatu di situ. Meskipun terlihat dari belakang, aku sudah tidak asing lagi dengan orang yang mengais-ngais sampah untuk mencari sisa-sisa makanan. Bapak kemarin yang meminta air kepada saya, ternyata itulah dia. Aku hanya lewat saja kali ini, karena bapak tadi juga sangat asyik mencari sesuatu yang bisa mengganjal perutnya dan tidak mempedulikan orang-orang yang lalu lalang di situ. Ya Allah, ternyata dari situ bapak itu mengisi perutnya.

Ini hanya bagian kecil dari saudara kita yang nasibnya kurang beruntung. Terlepas dari apa yang menyebabkan mereka bernasib seperti itu, entah karena kesalahan mereka sendiri atau keadaan yang menyebabkan mereka seperti itu, yang jelas orang-orang seperti mereka membutuhkan uluran tangan dari kita. Karena pada kenyataannya masih banyak saudara-saudara kita yang mempunyai nasib sama atau bahkan lebih tragis lagi. Bukankah kelaparan, kekurangan gizi, saudara-saudara kita yang hidup di pengungsian masih banyak di daerah-daerah tertentu di negeri tercinta ini?

Dengan melihat orang-orang seperti mereka, semoga membuat kita lebih peka terhadap keadaan di sekitar kita, tidak menyia-nyiakan nikmat Allah yang telah Dia anugerahkan kepada kita, apalagi sampai memanfaatkan untuk hal-hal yang dimurkai Allah. Sebaliknya, menjadikan kita berusaha untuk memanfaatkan karunia Allah untuk membantu saudara-saudara kita yang kurang beruntung. Indahnya berbagi. Yuk, kita rajut senyum di bibir dan hati saudara-saudara kita yang kurang beruntung itu dengan apa yang kita punyai sesuai peranan dan kemampuan kita.

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupanya.” (QS. 2 : 286), artinya tidak ada pembebanan di atas kesanggupan seseorang, pembebanan itu disesuaikan kemampuan berusaha seseorang dan batas kemampuan tiap individu. Maka, sesuai kemampuan yang kita miliki, kita harus berusaha untuk menyisihkan sebagian rizki yang dianugerahkan Allah untuk saudara-saudara kita yang kurang beruntung. Sebenarnya yang dibutuhkan oleh mereka tidak hanya berupa materi, namun mereka juga membutuhkan pendidikan, baik agama maupun umum, perhatian yang tulus dan dorongan semangat, sehingga mereka bisa berusaha bangkit dari keterpurukan.

Maka, dengan keseriusan, kesatuan visi, dan kerjasama yang baik dari semua komponen masyarakat, baik dari tingkat atas sampai ke level bawah, semoga kita semua mampu mengangkat saudara-saudara kita yang kurang beruntung dari keterpurukan. Mereka pun akan tersenyum bahagia menyambut hari depan yang lebih baik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: