Kesejukan Itu Enggan Berlalu

Hujan malam ini hanya rintik-rintik, atap-atap rumah tak perlu mengeluarkan tenaga ekstra untuk menahan turunnya rahmat Allah malam ini, dedaunan merasakan lembutnya belaian rintik rintik  hujan. Bumipun pasti tiada henti memuji kebesaran Allah atas turunnya setiap rintik hujan, yang rintik demi rintik telah menyejukkannya setelah seharian menerima karunia Allah yang lain berupa sinar mentari. Sejuknya hawa pada malam ini ditambah kesejukan hati setelah melaksanakan shalat Isya’ berjama’ah di masjid juga menembus sampai ke relung hatiku. Seperti biasanya sehabis shalat, aku mempersiapkan diri untuk berdagang kopi keliling di jalan, yaitu di salah satu jalan protokol ibu kota. Profesi yang telah kutekuni beberapa bulan terakhir ini. Dengan gaji yang dibawah Upah Minimum Kota dari pekerjaanku pada siang hari, aku belum memutuskan untuk hengkang dari situ untuk cari pekerjaan lain yang lebih layak. Walaupun keinginan untuk mencari pekerjaan yang lebih baik itu ada.Untuk menambah penghasilan, kuputuskan untuk mengayunkan langkah kakiku sambil menenteng termos ukuran 2 liter dan menenteng wadah yang berisi bermacam-macam kopi sachetan dan berbagai macam kue  untuk kujajakan kepada para tukang ojek, sopir bajaj, sopir taksi, satpam di gedung-gedung perkantoran dan para pembeli lainnya yang ingin menghangatkan badan  mereka dengan segelas kopi. Aku yakin, suatu saat pasti akan ada perubahan ke arah yang lebih baik, yang penting aku harus ikhtiar dengan segenap kemampuan dan juga tidak lupa berdo’a.

Dari balik kaca jendela aku mengintip keluar, hujan masih rintik-rintik “Dagang ngga’ ya..?Uang habis buat kirim orang tua di kampung,gajian masih setengah bulan”. Bisikku. Tanpa terasa aku melakukan kebodohan ala pelajar yang buntu pikirannya dan malas belajar, yang pada waktu pusing ngerjain soal ujian mencari jawaban di balik kancing baju. “Dagang, engga’, dagang, enng…”. Jari telunjukku bergerak menekan kancing bajuku dari atas ke bawah.Tapi dikancing baju yang keempat disamping suaraku hanya “enng…” saja, agaknya jariku juga tak sampai hati menyentuh kancing baju selanjutnya.Konsentrasiku pada ketololan yang  kulakukan itu dibuyarkan oleh suara kucing yang tiada lain itu adalah ring tone handphoneku untuk SMS yang masuk

Aku raih handphoneku. Aku baca sms yang masuk.“Dagang”. Bisikku sambil tanganku memegang erat hanphone. Ternyata aku memutuskan untuk dagang. Akan tetapi ini bukan hasil dari ketololanku tadi lho. Ini adalah spirit dari SMS yang barusan masuk.

“Skiranya kmu brtawakkal pd Allaah dgn sbenar2 twakkal nscaya Allaah mberi rezki kpdmu sprti Dia mberi rezki pd seekor burung yg pergi dgn perut kosong n pulang dgn perut kenyang”.Tulisan yang dirangkai oleh ‘Sahabat Cellulerku’ dari luar pulau nun jauh yang meluncur ke handphoneku ini yang membuatku semangat.Itulah yang selalu aku lakukan dengan sahabatku yang satu ini. Saling berkirim untaian SMS yang menyejukkan hati, memberi motivasi dan saling menasehati. Walaupun jauh bisa dibilang kita telah menjadi sahabat yang dekat.

“Bismillaah”. Aku keluar dari kontrakanku untuk menyambut sebagian karunia Allaah yang dianugerahkan kepada hamba-Nya yang mau berusaha. Sesudah melangkahkan kaki  ternyata hawa sejuk semakin terasa.

“Ee…! Mas Iyud wis teka”. Inilah yang selalu menyambutku setelah sampai di perempatan  lampu merah tempat mangkalnya para ojekers mania. Seoarang teman selalu menyapaku dengan sapaan logat jawanya yang kental(kopi kali kental). Dialah salah satu sahabatku selalu menghiburku  dikala aku dirundung duka, selalu memberi nasehat dikala aku membutuhkan setetes embun hidayah dan selalu membantuku dalam menyelesaikan masalah dalam kehidupanku. Bila nun jauh di seberang sana ada seorang sahabat yang selalu menyejukkan hatiku dengan sms-smsnya, maka sahabat yang  jaraknya dekat, dialah yang selalu menyejukkan hatiku dengan nasehatnya,perilakunya, ketulusannya dan lain sebagainya.

***

“Tea”, dengan nada bertanya seorang lelaki yang menggandeng perempuann bercadar melangkah menghampiriku sewaktu aku melepas lelah di sebuah halte yang kosong.

“No, e…e…cofee.”Jawabku dengan gugup sekaligus bingung. Selanjutnya mereka berdua terlibat perbicangan. Kali ini aku hanya mematung sambil memandang keduanya karena aku tidak faham apa yang mereka bicarakan. Yang aku tahu dari apa yang terlontar dari mulut mereka, mereka pakai bahasa arab,tapi aku sama sekali tidak tahu maksudnya. Aku hanya mengira-ira aja,apa mereka mau beli kopi ya…?

Setelah mereka selesai berbincang-bicang, kini giliran lelaki tadi menghadapkan wajahnya ke arah saya sambil menanyakan sesuatu.Aku mengerti maksudnya karena sedikit-sedikit pakai bahasa indonesia. Dia menanyakan berapa harga untuk segelas kopi. Sudah terpikir dalam otakku bahwa harganya adalah dua ribu, tapi aku terdiam untuk beberapa saat karena bingung untuk menyebutkan antara two hundret dan two thosand, biasa orang bilang aku ini tell me(maksudnya tellat meekir).

Untuk pertanyaan selanjutnya aku juga kesulitan, padahal ia hanya menanyakan yang kira-kira artinya begini “Satu termos ini bisa jadi berapa gelas?”. Karena  aku lupa-lupa ingat menyebut bahasa inggris untuk angka 12 maka aku menghitung gelas plastik yang ada bersama laki-laki itu dari “one” sampai “twelve”. Namun aku bingung mengapa mereka berdua menanyakan itu semua padahal mereka tidak membeli kopi saya. Mereka berdua kembali berbicara berdua yang pembicaraannya tidak aku mengerti. Setelah itu mereka berdua mulai berbicara dengan saya kembali. Tapi kali ini agak lama antara aku dan mereka berdua tidak nyambung. “Are you muslim?” ini pertanyaan yang akhirya kumengerti. Setelah tahu bahwa saya muslim, keluarlah dari mulut lelaki itu kata yang menjadi tujuan utama mereka menanyakan semua pertanyaan tadi. “Tahu shadaqah” tanya lelaki itu.”Ya,tahu”jawabku.Lelaki itu kembali manyahut, “shadaqah dengan ini” sambil tangannya menunjuk barang dagangan saya. O…ternyata mereka ingin sedekah. Akhirnya lelaki tadi mengeluarkan sejumlah uang dan memberikan uang kepada saya sejumlah penghasilan saya setiap kali berjualan dengan  syarat saya harus meneyedekahkan  kopi saya sebanding dengan uang yang saya terima.

Selesai memberikan uang kepada saya, lelaki tadi menjabat tangan saya dan mendo’akan saya. Begitu juga yang perempuan menungkupkan tangannya didepan dada. Keduanya bersama-sama mengucapkan salam dan berlalu dari hadapan saya dengan meninggalkan kesejukan dalam hatiku dengan sedekah yang mereka lakukan dan do’a yang mereka lantunkan.Selanjutnya saya melangkah untuk menjalankan amanah yang dibebankan kepada saya.

***

Selesai sudah tugas saya untuk menunaikan amanah yang diembankan kepada saya. Saya meneruskan langkah menuju kontrakan untuk mengistirahatkan diri.

“Dik, beli air putihnya aja dong”, suara itu menghentikan langkah saya ketika 100 meter lagi saya sampai dikontrakan.

“Maaf Pak airnya habis”, jawabku sambil menatap bapak tua yang bertanya tadi dan deretan orang yang tidur dengan alas seadanya. Begitu pulas mereka tidur, tidak mempedulikan angin malam yang yang menerpanya. Kasihan mereka.  Entah apa yang mereka rasakan,bahagikah? Atau bersedih? Cuma Allah dan mereka sendiri yang tahu. Dalam hati aku berbisik, Ya Allah ternyata aku masih beruntung dari mereka maka sudah seharusnya aku bersyukur kepada-Mu.

Sesampainya di kotrakan kuletakkan barang daganganku. Seperti biasa aku menuju kamar mandi mengambil wudhu untuk melaksanakn shalat sebelum aku memberi kesempatan kepada tubuhku untuk istirahat. Selesai shalat kurebahkan tubuhku untuk istirahat dan masih teringang dalam ingatanku kejadian-kejadian malam ini yang sungguh membawa kesejukan dihatiku. Aku rasa kesejukan dimalam ini memang engggan berlalu dari diriku bahkan mungkin akan terbawa kedalam mimpi indahku.

(Kenangan dari kota metropolitan)

2 thoughts on “Kesejukan Itu Enggan Berlalu

  1. makhluklemah 21 Oktober 2010 pukul 6:33 PM Reply

    cerpen ya mbak?

    *ketauan ngga baca

  2. Penyejuk Qalbu 21 Oktober 2010 pukul 7:08 PM Reply

    sedikit pengalaman pribadi
    Saya masih ttp laki-laki tulen lho, jangan dipanggil mbak *_^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: