Panas Memang tapi Menyejukkan

Ba’da zhuhur. Panas menyengat. Mendung pun tak tampak. Dia kembali mengayuh sepedanya bersamaan dengan menyalanya lampu hijau perempatan jalan. Panas terasa. Menunggu lampu merah beberapa menit, diterik matahari, pakai sepeda, tanpa helm, bercampur hawa panasnya mesin mobil dan motor yang berada disamping kiri kanannya mengingatkannya akan betapa panasnya ketika nanti dikumpulkan di padang mahsyar dengan matahari didekatkan,mendekat dan semakin mendekat. Merasakan panasnya kepala tanpa penutup kepala mengingatkannya akan dahsyatnya siksa paling ringan di neraka. Hanya dengan kaki menginjak kerikil neraka saja otak sudah mendidih. Dahsyat. Itulah kekuasaan Allah. Keringat yang mengalir terus mengingatkannya akan setinggi apa keringat yang menenggelamkannya disaat nanti digiring ke padang mahsyar. Setinggi mata kaki, selutut, sepinggang atau malah menenggelamkannya. Ya Allah kami mohon berilah naungan pada hari dimana tiada naungan selain naungan-Mu.
Dia bersama sepedanya terus meluncur ditengah panasnya udara ibukota untuk menyelesaikan tanggung jawab pekerjaan yang harus segera diselesaikan. Tanggung jawab terhadap amanah. Teman kerja yang seharusnya bertugas menyelesaikan pekerjaan itu sedang tidak masuk. Karena amanah itu harus segera dituntaskan maka dia mengambil alih tugas itu. Motor tidak ada maka sepeda pun jadi.

Tugas pun terselesaikan. Ia kembali mengayuh sepeda untuk kembali ke tempat semula, tempat kerja. Haus dan lapar terasa. Apalagi tadi belum sarapan pagi. Ingin segera menghilangkan dahaga. Ingin berhenti dipinggir jalan untuk membeli minuman dingin untuk menghilangkan rasa dahaga. Ah nanti aja lah sekalian beli makanan di warung dekat tempat kerja sekalian beli es teh manis. Begitu pikirnya.
“Mbak nasinya dibungkus satu sama es teh manis satu.”Dia langsung buru-buru memesan nasi setelah sampai di warung. Disaat menunggu pesanan selesai, pandangan matanya tertuju pada seorang kakek dan seorang anak kecil yang sedang duduk bersandar berdua di pagar, dengan tas kresek yang berisi sampah-sampah bekas berada disampingnya. Tampak kelelahan. Tampak mengusap keringat. Kasihan mereka berdua. Begitu pikirnya. Dia langsung lihat uang disakunya. Oh cukup. “Mbak, es teh manisnya satu lagi ya.”Segera dia kembali ketempat kerja setelah pesanan selesai dibuat.Tak lupa dia menghampiri kakek dan cucu tadi untuk mengasih dua buah es teh manis. Toh ditempat kerja masih ada air putih dingin. Begitu pikirnya. Ucapan “alhamdulillah” yang meluncur dari mulut kakek tadi mampu menyejukkan hatinya meskipun ditengah panasnya hawa siang itu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: