Meskipun Hanya Sepeda


Ba’da Shubuh. Pagi yang indah. Udara kota Jakarta masih sejuk terasa. Lalu lintas belum terlalu ramai. Setelah silaturrahiim dari rumah saudara sekalian menginap disana, saya berpamitan pulang. Ditemani satu-satunya kendaraan yang saya miliki, sepeda bekas, saya menyusuri jalanan ibukota sambil menikmati udara pagi kota Jakarta yang masih terasa sejuk.

Di tengah perjalanan, saya bertemu seorang bapak yang juga mengendarai sepeda. Maka beliu menjadi teman dalam perjalanan. Karena lalu lintas belum ramai kita bisa jalan berjajar sambil berbincang-bincang santai. Mmm…ternyata dengan sepeda yang lebih memprihatinkan dari sepeda saya itu mengantarkan bapak tadi menempuh perjalanan Karawang-Jakarta. Beliau juga dari rumah saudaranya.Naik sepeda.

“Ayo dek,cepet! Sebentar lagi lampu merah”
Melihat saya tampak santai, sambil mempercepat kayuhan sepedanya beliau mengajak saya untuk mempercepat laju sepeda masing-masing. Karena memang kami sedang menyeberang di perempatan yang sudah ramai dengan kendaraan meskipun dijalan-jalan lain masih terlihat sepi. Setelah dapat ajakan dari bapak tadi saya langsung mempercepat laju sepeda saya.

Saya sudah sampai di seberang, berhenti sebentar, menoleh ke belakang, beliau masih tertinggal dibelakang, berusaha mempercepat kayuhan sepedanya.“Wah…kok malah duluan adek sampainya, padahal tadi kan adek dibelakang saya. Mmm… sepeda adek masih kuat sih, apalagi yang bawa juga masih muda, nggak kayak sepeda bapak yang sudah nggak bisa diajak ngebut.”Begitu kata bapak setelah sampai diseberang. Saya hanya tersenyum saja.

Kami kembali melanjutkan perjalanan. Sampai akhirnya beliu berhenti disebuah warung untuk istirahat setelah berjalan jauh sedangkan saya tetap melanjutkan perjalanan untuk segera bekerja.

Ya Allah, pagi yang indah. Menikmati sejuknya kota Jakarta. Semakin sejuk dengan Engkau mempertemukanku dengan seseorang yang berada dibawah saya dalam hal keduniaan(kendaraan). Meskipun dalam hal-hal yang lain beliau mungkin lebih mempunyai kelebihan dibanding saya. Tumbuh rasa syukur dengan melihat orang yang dibawah ku dalam hal harta(kendaraan). Ya…meskipun hanya sepeda bekas, bukankah dengan sepeda itu selama ini saya menyelesaikan sebagian pekerjaan-pekerjaan saya, bukankan dengan sepeda itu saya bisa bersilaturrahiim, bukankan dengan sepeda itu saya bisa menikmati udara pagi di Jakarta, bukankah dengannya saya bisa berolahraga dan berbagai manafaat lainnya. Sungguh banyak manfaat yang bisa saya ambil. Sungguh anugerah yang tiada terhingga, meskipun hanya sebuah sepeda. Alhamdulillah.

7 thoughts on “Meskipun Hanya Sepeda

  1. omiyan 16 Agustus 2011 pukul 4:15 AM Reply

    om admin yang baik saya mohon ijin gambarnya saya gunain untuk banner blog saya ya…

    thanks

    • Penyejuk Qalbu 21 Agustus 2011 pukul 4:37 PM Reply

      silahkan🙂

      • Hexa 23 September 2011 pukul 6:42 PM

        sama om, mohon ijin sedot gambarnya. keren…

  2. wicaksono71 12 Januari 2012 pukul 7:01 AM Reply

    ikut pinjam juga ya gambarnya

  3. edi utomo 9 Maret 2012 pukul 7:16 AM Reply

    oh ya om sy juga ikut2an pinjam gambarnya ya. makasih om.

  4. Nur Siyam 19 Maret 2012 pukul 12:22 PM Reply

    hidup lebih lapang dgn bersyukur… skecil apapun nikmat yg Allah berikan hrs kita syukuri dan insyaallah Allah akan menambah nikmatNya. thanks for the lesson .. :-))

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: