Kun Fa Yakun(Musibah yang Menyebabkanku Lumpuh)(1)

Pada suatu hari ayahku datang kepadaku dan berkata tentang suatu hal yang aku perbuat. Yaitu sebuah perbuatan maksiat dan sebuah hal yang tidak diinginkan oleh setiap bapak terjadi pada anaknya, maka iapun berkata kepadaku, “Engkau merokok!.”

Aku berkata kala itu, “Demi Allah yang Maha Agung, aku tidak merokok!!.”

Aku bersumpah dengan nama Allah bahwa aku tidak merokok, namun aku lupa dengan apa yang disabdakan Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam: “Dosa-dosa besar adalah menyekutukan Allah, durhaka kepada kedua orang tua, membunuh nyawa(orang lain) dan sumpah ghamus(HR Bukhari)

Sumpah ghamus adalah sumpah yang didalamnya ia berdusta dengan sengaja. Sumpah dusta tersebut menjerumuskan pelakunya ke dalam dosa dan berhak untuk diadzab di neraka. Sumpah dusta ini tiada baginya tebusan kecuali taubat yang sebenar-benarnya taubat. Wahai saudaraku, jika sumpah seorang pendusta tidak ada baginya tebusan melainkan dengan taubat yang benar, berapa banyakkah dari umat Islam sekarang ini yang berdusta dalam sumpahnya?

Kemudian –ketika itu—aku mengangkat suaraku di hadapan ayahku. Aku mempraktekkan sebuah pepatah “Yakinkanlah mereka dengan suara yang keras” karena sesungguhnya ayahku tidak melihatku merokok secara langsung. Ia hanyalah mendengar tentangku saja. Aku telah mengangkat suaraku padahal Allah Ta’ala berfirman: “Dan Rabbmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan jangan membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.”(QS Al Isra: 23)

Subhanallah!! Kata “ah” saja merupakan kedurhakaan yang paling kecil yang dapat mendatangkan kemurkaan Allah. Wahai saudaraku, bagaimana halnya tatkala engkau mengangkat suaramu? Tentu yang keluar dari mulutmu itu lebih dari sekedar kata “ah”. Dan engkau telah membuat ayahmu marah. Padahal Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Ridha Allah pada ridha orangtua dan murka Allah pada murka orangtua.”
Sementara kematian datang seperti kilat, datang hanya diantara dua huruf saja(kun) jadilah maka jadilah. Allah Ta’ala hanya berkata ‘kun’(jadilah). Kata tersebut dapat mengangkat derajat suatu kaum atau merendahkan derajat kaum lain, memuliakan atau menghinakan suatu kaum, melapangkan atau menyempitkan rezeki suatu kaum, mematikan atau menghidupkan, dengan kata ‘kun’ saja…

Wahai saudaraku, bagaimana engkau dapat mendurhakai ayahmu atau ibumu jika engkau tidak mengetahui kapan engkau akan mati?

Ketika aku berkata kepadanya, “Demi Allah aku tidak merokok” dan aku mengangkat suaraku dihadapannya, jadilah suaraku itu lebih tinggi dari suaranya, padahal dia sangat yakin bahwa aku merokok. Lepaslah do’a dari ayahku kepadaku, maka ia berkata: “Jika kamu berdusta, semoga Allah mematahkan lehermu.”

Sekiranya saja wahai saudaraku, aku meninggal seketika itu juga sungguh betapa meruginya aku, rugi kehidupanku semuanya. Aku layak mendapatkan api neraka, karena ridha Allah terdapat pada ridha orang tua dan marah Allah terdapat pada marah orang tua.

Baiklah wahai saudaraku… bagaimanakah jika halnya aku tidak meninggal, namun tatkala aku kembali kerumah lantas aku mendapati kedua orangtuaku itu yang meninggal dunia? Atau seandainya salah seorang dari kalian telah membuat ayahnya murka lalu ia mendapatinya telah menjadi mayat? Sekiranya anak yang meninggal dahulu mungkin orang tua nya masih bisa memaafkan kesalahannya. Tetapi jika ayahnya meninggal dahulu, siapa yang akan memaafkannya? Bagaimana ia bertemu Rabbnya kelak pada hari kiamat?

Keesokan harinya aku pergi ke laut untuk berenang bersama adikku dan teman-temanku. Selesai berenang di laut, kami pergi ke kolam renang dekat pantai. Kolam renang masih dalam keadaan tertutup. Teman-temanku hampir pulang. Aku tidak berputus asa dan melarang mereka pulang. Aku punya ide untuk memanjat pagar. Akhirnya teman-temanku senang dengan ideku. Kami memanjat pagar dan masuk ke kolam renang.

Kedalaman air satu setengah meter ada pula yang tiga meter. Tinggiku saat itu seratus delapan puluh dua senti meter dalam keadaan sehat wal afiat. Saat itu aku terjun melompat ke kolam renang. Allah telah menetapkan “Jadilah anda lumpuh” maka seketika itu juga aku lumpuh….(bersambung)
Diambil dari buku “Saat Hidayah Meyapa”(Kisah Nyata Perjalanan Taubat Da’i Lumpuh Total)
Penulis : Fariq Gasim Anuz
Penerbit : Daun Publishing

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: