Uang Palsu

Indra sedang berjalan di trotoar. Suasana agak gelap. Ada lampu memang. Tapi sebagian lampu jalan itu tidak berfungsi. Alhamdulillah dagangan Indra malam ini laris.
“Mas…mas….!!!”
Panggilan seorang bapak dari kejauhan itu membuat Indra menoleh dan menghentikan langkahnya, sambil meletakkan dagangannya.
“Masih ada kan, kopinya?” Tanya bapak tadi setelah berhadapan dengan Indra.
“Masih, mau kopi apa Pak?”
“Kopi susu aja?Tapi uangnya lima puluhan, ada kembaliannya kan?”
“Mmm….coba saya lihat dulu.”Dia merogoh sakunya sambil menghitung uang yang ada.
“Oh, cukup-cukup buat kembalian”
Kopi selesai dibuatkan, uang diserahkan, kembalian sudah diberikan, pembeli itupun buru-buru menuju angkutan umum yang sedang lewat. Disamping suasana agak gelap Indra juga tidak begitu memperhatikan uang lima puluhan itu dan langsung saja memasukkannya ke saku.

Sampai di kontrakan Indra segera menghitung hasil jualan malam ini. Alhamdulillah, dengan keuntungan kurang lebih sepuluh ribu rupiah tiap kali jualan, bisa untuk menambah untuk makan. Hanya ada beberapa lembar uang seribuan dan logam lima ratusan, karena yang biasanya kebanyakan uang ribuan telah berubah jadi lima puluhan. Tapi ada yang aneh. Setelah terkena terangnya lampu dan dilihat lebih seksama ternyata ada yang beda dengan uang lima puluhan tadi. Lalu ia ambil lima puluhan di laci dan dia bandingkan dengan uang tadi. Ternyata Indra mendapati kertasnya seperti kertas biasa, tidak ada benang pengaman hanya semacam cap pengganti benang dan “watermark” gambar pahlawan nya tampak beda dengan uang yang satunya. Yaah….uangnya palsu. Ya sudahlah.

*********

“Mbak, coba lihat uang ini.”Indra menyerahkan uang lima puluhan itu pada sepupunya untuk meyakinkan dirinya bahwa itu bener-bener palsu.
“Kenapa?palsu ya..?”
“Iya nih, dapat semalam pas dagang”
“Ini ma udah jelas palsu”. Baru memegang saja sepupunya Indra sudah bilang itu uang palsu.
“Lihat dulu dong”
“Udah jelas begini, ni bandingkan aja dengan yang asli beda banget kan”Sepupunya Indra mengeluarkan uang lima puluhan dari sakunya.
“Iya sih, beda banget. Aku sebenarnya juga sudah mbandingin kemaren, tapi buat ngeyakinin, aku kasih tahu ke mbak”
“Nih, sobek-sobek saja, atau disimpan buat kenang-kenangan kalo kamu pernah kena tipu tapi ingat jangan diselipin di uang yang asli untuk dibelanjaain.”Sepupunya nyerahin uang itu ke Indra lagi
“Siiip dheh, e mbak aku jadi ingat kemaren ada yang cerita, katanya tetangganya dapat uang palsu terus diselipin di uang yang asli terus dibelanjain,nggak ketahuan sih, tapi tetep aja menyuburkan penipuan”
“Kamu mau kayak gitu”
“Nggak ah, cukup aku aja yang rugi, cukup aku aja yang kena tipu”

######

“Sini saya belanjain aja”. Kata seorang temen setelah Indra memberitahukan bahwa dia dapat uang palsu.
“Jangan, kasihan kan nanti yang dapat ini, cukup berhenti di saya saja, cukup saya saja yang rugi”
“Biarin aja, bukan kita ini yang bikin”
“Yee…tapi kan kasihan yang dapat nantinya”
“Jadi beneran nggak boleh ni”
“Ngak, sekali nggak tetep nggak”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: