Prinsip Harga Pokok (The Cost Principle)

Aktiva dan jasa yang dibeli perusahaan harus dicatat sesuai dengan prinsip harga pokok/harga beli (cost principle), yang mengharuskan bahwa nilai moneter yang dicatat untuk aktiva atau jasa tersebut didasarkan pada harga pokoknya. Sebagai contoh, jika perusahaan membeli tanah dengan harga Rp 150 juta, maka itulah yang dicatat dalam catatan akuntansi.Waktu akan menjual, mungkin akan ditawarkan Rp 170 juta, sedangkan si pembeli menawar Rp 165 juta, untuk keperluan pajak bumi dan bangunan, tanah ditaksir dengan nilai Rp 155 juta dan di asuransikan dengan nilai pertanggungan Rp 160 juta. Angka-angka yang disebutkan itu tidak mempengaruhi catatan akuntansi, karena angka-angka tersebut tidak timbul dari transaksi pembelian. Jadi harga yang dicatat tetap harga perolehannya sebesar Rp 150 juta.

Melanjutkan ilustrasi di atas,penawaran sebesar Rp 170 juta merupakan petunjuk bahwa pembelian seharga Rp 150 juta itu di bawah harga. Akan tetapi, seandainya tanah itu dicatat dengan nilai Rp 170 juta, berarti dilaporkan suatu laba semu atau laba yang tidak ada realisasinya. Namun, bila penawaran diterima dan tanah itu dijual dengan harga Rp 170 juta, barulah laba Rp 20 juta itu terealisir dan pemilik tanah yang baru akan mencatat nilai tanah itu sebesar Rp 170 juta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: