Arsip Kategori: Muslimah

Ambil Peran itu!

Sahabat-sahabat muslimah, sungguh Islam sangat memuliakanmu. Jika engkau seorang ibu dalam rumah tangga, engkau bukan sekedar membersihkan rumah, bukan sekedar menyenangkan suami dan bukan sekedar melahirkan, tapi engkau adalah pendidik generasi penerus yang memberi warna pada masyarakat Islam. Jika engkau masih sebagai calon ibu dalam rumah tangga engkaupun sedang mempersiapkan diri untuk menjadi madrasah pertama bagi buah hati, generasi penerusmu. Sungguh tugas yang sangat mulia. Mendidik. Tidak inginkah dari rahimmu lahir dan sekaligus engkau mendidiknya menjadi generasi yang Rabbani, generasi yang taat kepada Allah dengan mengikuti jejak Rasulullah SAW, generasi yang menjadi penyejuk mata bagi kedua orangtuanya dan selalu mendo’akan ibu bapaknya.

Jangan biarkan generasi penerusmu menjadi generasi yang mengalami degradasi. Jangan biarkan buah hatimu menjadi yatim, padahal dia mempunyai ayah dan ibu. Bukankah saat ini banyak anak-anak yang masih lengkap ayah ibunya, tapi si anak tidak mendapatkan perhatian dari orangtuanya dan dibiarkan saja anak-anak itu berkembang sendiri. Tentunya engkau tidak ingin menjadi bagian dari mereka yang mengabaikan buah hatinya hanya karena menuruti obsesi pribadi.

Bukan, bukan ayah dan bunda tiada
Keduanya masih ada
Tapi,
Ibunya seakan menyia-nyiakannya
Sibuk untuk mengenyangkan tuntutan nuraninya sendiri
Ayahpun larut dalam kesibukannya
Kering kasih sayang
Kering perhatian
Kering pendidikan
Apakah aku yatim?

Bukan. Engkau bukan muslimah yang membiarkan generasi penerusmu bertanya-tanya “Apakah aku yatim?” Laksanakan tugas itu. Ambil peran itu. Jangan biarkan lingkungan yang tidak kondusif mempengaruhi perkembangan generasi penerusmu. Jangan biarkan arus budaya yang tidak sesuai dengan prinsip-prinsip Islam itu menjadi acuan bagi generasi penerusmu. Orangtuanyalah yang memegang peranan penting dalam pendidikan generasi penerusnya. Jangan biarkan bayi yang terlahir suci itu akhirnya terkontaminasi. Bukankah Rasulullah bersabda:”Setiap bayi yang lahir dalam keadaan fitrah. Maka orangtuanyalah yang kemudian berperan merubah fitrahnya, apakah kelak ia menjadi yahudi, menjadi majusi atau menjadi nashrani.” Fitrah(Islam) itu telah menyatu dalam setiap anak yang lahir. Maka tugas orang tua untuk tetap mengasuh buah hati yang fitrah itu dengan sistem dan pola yang fitrah pula.

Sahabat-sahabat muslimah….!!!

Selamat berjuang untuk ikut andil dalam mencetak generasi-generasi penerus yang tetap pada fitrahnya, generasi yang rabbani dan yang berkwalitas.

Asiyah, Istri Fir’aun

Asiyah,istri Fir’aun
Sungguh luar biasa…..
Dia hidup ditengah gemerlap kekuasaan Fir’aun.
Dipuncak kezhaliman dan kediktatoran dari kekuasaan suamianya.Dia tumbuh sebagai seorang ratu di istana yang mewah. Namun, keimanan mampu memancar dari dalam hatinya yang selalu suci menerangi penjuru bumi dan mengabadikan sejarahnya sepanjang masa.
Ia berhasil mengusung keimanannya kepada Allah.
Ia mampu berserah diri hanya kepada Allah.
Maka,
Sungguh pantas, jika Allah menjadikannya perumpamaan bagi orang-orang beriman
Dan munajatnya kpd Allah akan selalu terukir indah dlm QS At Tahriim:11

“Dan Allah membuat perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, istri Fir’aun, ketika dia berkata. ‘Ya Tuhanku, bangunkanlah untukku sbuah rumah disisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan pebuatannya dan selamatkanlah aku dari kaum yang zhalim’. QS 66:11

Dengan perantaraan(sebab) kasih sayang dari wanita yang mulia ini pula Allah menyelamatkan Nabi Musa AS dari keganasan Fir’aun. “Dan berkatalah isteri Fir’aun: ‘(Ia) adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu. Janganlah kamu membunuhnya, mudah-mudahan ia bermanfaat kepada kita atau kita ambil ia menjadi anak”, sedang mereka tiada menyadari”.(QS 28:9)

Ketika Musa AS telah dewasa dan mengungsi ke Madyan untuk menjauhi sementara dari kediktatoran Fir’aun, kemudian kembali lagi ke Mesir setelah Allah mengangkatnya sebagai utusan-Nya, maka Asiyah termasuk orang yang pertama membenarkan dakwah Musa AS.

Kemudian Fir’aun memerintahkan prajuritnya untuk membanting Asiyah keatas tanah dan mengikatnya diantara empat batang pohon, lalu prajurit mencambukinya. Asiyah dengan penuh kesabaran menerima siksaan itu. Kemudian Fir’aun memerintahkan prajuritnya untuk meletakkan batu penggilingan diatas dadanya dan batu besar diatas dadanya. Oleh karena itu Asiyah menghembuskan nafasnya yang terakhir. Para malaikat menaunginya dengan sayap-sayap mereka dan menempatkannya di surga. Asiyah adalah wanita penuh keberanian dan teguh dalam menjaga keimanannya. Oleh karena itu pantaslah jika ia mendapatkan kenikmatan surga.

Asiyah mempunyai keteguhan yang luar biasa, sehingga mampu melewati ujian yang berat.

Dibalik kelemah lembutan seorang wanita tersimpan kekuatan kekuatan yang luar biasa. Maka sudah saatnya para muslimah memaksimalkan kekuatan-kekuatan yang dimilikinya untuk menggapai kemuliaan disisi Allah.Ayo….tunjukkan kekuatanmu….!!!!

%d blogger menyukai ini: